Demam Berdarah Dengue (DBD) telah lama menjadi beban kesehatan masyarakat global, menyebabkan jutaan infeksi dan ribuan kematian setiap tahunnya. Mengingat kompleksitas Epidemiologi Demam Berdarah Dengue yang melibatkan empat serotipe virus, pengembangan alat pencegahan yang efektif, terutama vaksin, sangat krusial. Dalam beberapa tahun terakhir, upaya global untuk memutus rantai penularan telah mencatat kemajuan signifikan, dengan hadirnya Vaksinasi Dengue sebagai harapan baru. Vaksin yang ideal harus mampu memberikan perlindungan seimbang terhadap keempat serotipe virus dengue (tetravalen) untuk mencegah infeksi dan, yang lebih penting, mencegah kasus infeksi sekunder yang parah. Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam pedoman terbarunya per Maret 2025 mengakui bahwa integrasi vaksinasi ke dalam Upaya Komprehensif pengendalian vektor adalah langkah strategis.
Perkembangan terbaru dalam Vaksinasi Dengue menunjukkan bahwa kandidat vaksin generasi baru telah melewati uji klinis fase III dengan hasil yang menjanjikan, terutama dalam mengurangi kasus DBD yang memerlukan rawat inap dan mencegah penyakit parah. Salah satu vaksin yang telah mendapatkan otorisasi edar dan direkomendasikan penggunaannya di negara-negara endemis adalah vaksin tetravalen yang diberikan dalam dua dosis, dengan interval dosis selama tiga bulan. Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberikan izin edar terbatas untuk vaksin ini pada 20 November 2024, menargetkan individu dalam rentang usia tertentu. Penting untuk dicatat bahwa keputusan mengenai skema dua dosis ini didasarkan pada data keamanan dan efikasi yang terbukti kuat.
Vaksinasi Dengue memainkan Peran Penting dalam strategi kontrol DBD global karena ia menawarkan perlindungan individu yang tidak sepenuhnya dapat dijamin oleh upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) saja. Meskipun program 3M Plus adalah fundamental dalam pengendalian vektor, ia sangat bergantung pada kedisiplinan dan partisipasi masyarakat. Vaksin bertindak sebagai lapisan pertahanan tambahan, khususnya bagi populasi yang tinggal di daerah dengan angka kasus tinggi (endemis). Pengaplikasiannya tidak hanya mengurangi jumlah orang yang jatuh sakit, tetapi juga secara teoritis dapat menurunkan sirkulasi virus di komunitas jika cakupan imunisasi tinggi, sehingga secara tidak langsung juga melindungi mereka yang belum divaksinasi (efek kekebalan kelompok).
Tantangan utama dalam Vaksinasi Dengue saat ini adalah penentuan kelompok sasaran yang paling tepat dan memastikan ketersediaan pasokan. Berdasarkan rekomendasi ahli dan studi keamanan, vaksin ini diprioritaskan untuk populasi remaja dan dewasa muda yang berada di wilayah dengan beban DBD tinggi. Pemerintah melalui Dinas Kesehatan Provinsi di Jawa Timur, misalnya, telah mulai mengimplementasikan program percontohan vaksinasi ini untuk remaja usia sekolah di wilayah risiko tinggi, dimulai pada 17 Februari 2026. Dengan kemajuan dalam Mengintegrasikan Kecerdasan Buatan dalam analisis data epidemiologi, penentuan area prioritas untuk rollout vaksinasi dapat dilakukan secara lebih akurat, memastikan sumber daya vaksin terdistribusi secara maksimal untuk dampak kesehatan publik yang terbesar.