Permasalahan kesehatan masyarakat di tingkat daerah sering kali memerlukan pendekatan yang tidak hanya bersifat klinis di dalam gedung rumah sakit, tetapi juga aksi nyata yang menyentuh akar rumput. RS Arun Lhokseumawe menyadari bahwa salah satu tantangan terbesar di wilayahnya adalah tingginya angka kasus gizi buruk yang menimpa balita dan anak-anak. Sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan medis, rumah sakit ini meluncurkan Program Desa Sehat Terintegrasi, sebuah inisiatif kolaboratif yang bertujuan untuk memutus rantai malnutrisi melalui edukasi, pemantauan ketat, dan pemberian bantuan nutrisi secara berkelanjutan.
Fokus RS Arun Lhokseumawe dalam menangani gizi buruk dimulai dengan pemetaan wilayah-wilayah yang memiliki kerentanan pangan dan sanitasi rendah. Tim medis yang terdiri dari dokter spesialis anak, ahli gizi, dan perawat komunitas diterjunkan langsung ke desa-desa untuk melakukan skrining kesehatan secara massal. Hal ini sangat penting karena banyak kasus malnutrisi yang tidak terdeteksi secara dini akibat kurangnya pengetahuan orang tua mengenai ciri-ciri fisik anak yang kekurangan asupan nutrisi kronis. Dengan menjemput bola ke desa, rumah sakit dapat memberikan intervensi medis jauh sebelum kondisi anak mencapai tahap kritis.
Program Desa Sehat Terintegrasi ini tidak hanya memberikan bantuan makanan tambahan secara instan, tetapi juga mengedukasi para ibu mengenai pengolahan bahan pangan lokal yang kaya nutrisi. Ahli gizi dari RS Arun Lhokseumawe memberikan pelatihan mengenai pembuatan MPASI (Makanan Pendamping ASI) yang sehat, murah, dan mudah didapat di lingkungan sekitar. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa penanganan gizi buruk bersifat jangka panjang dan mandiri. Masyarakat diajarkan bahwa untuk hidup sehat tidak harus selalu mahal, melainkan memerlukan pemahaman yang benar mengenai keseimbangan gizi dalam menu harian keluarga.
Selain aspek nutrisi, RS Arun Lhokseumawe juga memperhatikan faktor lingkungan sebagai pemicu gizi buruk. Penyakit infeksi yang berulang, seperti diare akibat sanitasi buruk, sering kali menjadi penyebab utama anak kehilangan berat badan secara drastis. Oleh karena itu, program ini juga mencakup perbaikan fasilitas air bersih dan edukasi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Dengan memperbaiki kondisi lingkungan, daya tahan tubuh anak-anak di desa tersebut akan meningkat, sehingga nutrisi yang masuk ke dalam tubuh dapat terserap secara maksimal untuk proses pertumbuhan dan perkembangan otak.