Kapasitas layanan kesehatan di tingkat daerah seringkali diuji hingga titik nadir saat terjadi pergerakan massa dalam skala besar. Laporan terkini dari berbagai wilayah menunjukkan bahwa kondisi stok tabung oksigen di beberapa rumah sakit daerah mulai berada pada level yang mengkhawatirkan. Seiring dengan meningkatnya volume kendaraan di jalur lintas provinsi, jumlah insiden medis darurat yang membutuhkan bantuan pernapasan juga naik secara signifikan. Hal ini menimbulkan kecemasan bagi pihak pengelola RS Daerah mengenai kemampuan mereka untuk bertahan hingga puncak arus balik selesai tanpa mengalami kelangkaan total yang fatal.
Masalah keterbatasan stok tabung oksigen ini diperburuk oleh kendala distribusi di jalur darat yang mengalami kemacetan parah. Truk pemasok gas medis seringkali terjebak dalam antrean panjang kendaraan pribadi, sehingga jadwal pengisian ulang di rumah sakit menjadi terlambat dari waktu yang seharusnya. Padahal, kebutuhan oksigen tidak bisa ditunda, terutama bagi pasien kecelakaan dengan trauma dada, pasien asma yang kambuh akibat debu perjalanan, hingga pasien kritis di ruang ICU. Rumah sakit daerah yang memiliki kapasitas gudang logistik terbatas menjadi pihak yang paling rentan menghadapi krisis ini jika tidak ada jalur prioritas bagi kendaraan pengangkut alat kesehatan.
Manajemen rumah sakit terpaksa melakukan strategi prioritas penggunaan agar stok tabung oksigen yang tersisa dapat bertahan lebih lama untuk kasus-kasus yang paling mendesak. Koordinasi antar rumah sakit tetangga terus diupayakan untuk melakukan sistem pinjam pakai tabung jika salah satu fasilitas mengalami kekosongan mendadak. Namun, ini hanyalah solusi sementara yang sangat berisiko tinggi. Dibutuhkan langkah taktis dari pemerintah daerah dan aparat kepolisian untuk mengawal armada pengangkut oksigen agar mendapatkan akses prioritas di jalan raya, sama seperti perlakuan terhadap mobil ambulans dalam kondisi darurat.
Selain masalah distribusi, kenaikan permintaan secara mendadak terhadap stok tabung oksigen juga seringkali dipicu oleh lonjakan penyakit pernapasan akibat polusi udara dan cuaca ekstrem selama perjalanan mudik. Masyarakat diimbau untuk menjaga kondisi kesehatan fisik agar tidak membebani fasilitas kesehatan yang sudah dalam kondisi terbatas. Pihak rumah sakit daerah juga diharapkan mampu melakukan inovasi dalam pengelolaan gas medis, misalnya dengan menggunakan konsentrator oksigen elektrik untuk pasien dengan kebutuhan aliran rendah, guna menghemat cadangan oksigen murni dalam tabung untuk kasus trauma berat yang membutuhkan tekanan tinggi.