Risiko Genetik Jantung Koroner: Bisakah Diwariskan dan Bagaimana Mencegahnya?

Penyakit Jantung Koroner (PJK) sering dikaitkan erat dengan gaya hidup, seperti kebiasaan merokok, pola makan buruk, dan kurangnya aktivitas fisik. Namun, terdapat faktor penentu lain yang tidak dapat diubah: Risiko Genetik. Pertanyaan mengenai apakah PJK dapat diwariskan seringkali menimbulkan kecemasan dalam keluarga yang memiliki riwayat penyakit ini. Jawabannya adalah ya, kerentanan terhadap PJK sangat dipengaruhi oleh faktor genetik. Risiko Genetik ini tidak berarti bahwa seseorang pasti akan menderita PJK, melainkan mereka mewarisi kecenderungan biologis yang membuat mereka lebih rentan terhadap kondisi seperti kolesterol tinggi yang sulit dikontrol atau tekanan darah tinggi. Menurut laporan terbaru dari Asosiasi Dokter Jantung Indonesia (ADJI) pada Mei 2025, individu dengan riwayat keluarga PJK primer (serangan jantung pada ayah sebelum usia 55 tahun atau pada ibu sebelum usia 65 tahun) memiliki peluang dua kali lipat lebih besar untuk mengembangkan penyakit yang sama.

Memahami Risiko Genetik bukanlah untuk menciptakan keputusasaan, melainkan untuk memicu tindakan pencegahan yang lebih agresif dan terencana. Genetika menentukan “kartu” yang Anda miliki, tetapi gaya hidup yang Anda jalani adalah “cara bermain” kartu tersebut. Ada beberapa kelainan genetik yang secara langsung meningkatkan risiko PJK, yang paling umum adalah Familial Hypercholesterolemia (FH). FH adalah kondisi genetik yang menyebabkan kadar kolesterol LDL (“jahat”) sangat tinggi sejak lahir, jauh melebihi kadar kolesterol yang disebabkan oleh diet. Seseorang dengan FH mungkin terlihat sehat, tetapi pembuluh darahnya telah mengalami kerusakan plak selama bertahun-tahun.

Langkah pencegahan bagi individu dengan riwayat PJK dalam keluarga harus dimulai lebih awal dan lebih ketat dibandingkan populasi umum. Ahli Genetika Klinis, dr. Fitriana Dewi, Sp.GK., dalam sesi konsultasi publik yang diadakan pada Selasa, 14 Januari 2026, menyarankan agar skrining kolesterol dan tekanan darah dimulai sejak usia 20 tahun bagi individu yang memiliki risiko genetik kuat. Skrining ini harus mencakup tes lipid panel lengkap, bukan hanya kolesterol total. Jika ditemukan kelainan, intervensi pengobatan (seperti statin dosis rendah) dan perubahan gaya hidup harus segera diterapkan, tanpa menunggu hingga usia paruh baya.

Selain skrining, perubahan gaya hidup memegang peranan krusial sebagai faktor non-genetik yang dapat dimodifikasi. Ini mencakup adopsi pola makan rendah lemak jenuh dan tinggi serat (mirip dengan diet DASH), olahraga aerobik teratur minimal 150 menit per minggu, dan yang terpenting, menjauhi rokok dan minuman beralkohol berlebihan. Dengan mengambil langkah-langkah preventif yang disiplin dan secara konsisten memeriksakan diri ke dokter spesialis jantung setiap enam bulan (atau lebih sering jika diperlukan), individu dengan kerentanan genetik dapat secara signifikan menunda atau bahkan mencegah manifestasi penyakit Jantung Koroner, membuktikan bahwa nasib kesehatan tidak sepenuhnya ditentukan oleh DNA.