Pepatah kuno yang menyatakan bahwa “tertawa adalah obat terbaik” kini telah terbukti secara ilmiah melalui bidang ilmu gelotologi, yaitu studi yang mempelajari dampak fisiologis dan psikologis dari ekspresi tertawa pada tubuh manusia. Di tengah tingginya tekanan hidup harian dan tingkat stres masyarakat modern, penerapan terapi tertawa lepas kini dimanfaatkan sebagai salah satu bentuk intervensi non-farmakologis yang sangat efektif. Tertawa bukan sekadar bentuk ekspresi emosi kegembiraan, melainkan sebuah respons fisik kompleks yang memicu serangkaian reaksi biokimia positif di dalam tubuh kita.
Saat seseorang melakukan aktivitas dalam sesi terapi tertawa secara tulus, terjadi perubahan biokimia yang dramatis pada sistem hormon dan jaringan saraf pusat. Tertawa secara langsung menekan dan menurunkan produksi kortisol dan adrenalin, yaitu dua hormon utama yang dikeluarkan oleh kelenjar adrenal saat tubuh berada dalam kondisi tegang atau tertekan. Kadar hormon kortisol yang tinggi secara kronis terbukti dapat merusak sel-sel otak, menaikkan tekanan darah, memicu penumpukan lemak perut, serta melemahkan sistem imun tubuh.
Dengan berkurangnya kadar hormon stres setelah tertawa lepas, tubuh terbebas dari kondisi siaga tinggi (fight-or-flight) dan beralih ke kondisi relaksasi yang menenangkan. Bersamaan dengan penurunan hormon kortisol, penerapan terapi tertawa juga merangsang otak untuk melepaskan senyawa kimia neurotransmiter seperti endorfin dan dopamin. Endorfin bekerja sebagai zat pereda nyeri alami tubuh yang menciptakan perasaan nyaman, sementara dopamin berperan dalam meningkatkan suasana hati, motivasi, serta rasa bahagia.
Selain memberikan khasiat hormonal, tindakan fisik saat tertawa seperti pengambilan napas dalam-dalam dan kontraksi ritmis pada otot perut serta dada meningkatkan asupan oksigen ke dalam paru-paru dan organ vital lainnya. Aliran darah beroksigen ini merangsang sirkulasi sistem kardiovaskular serta memberikan “pijatan” lembut pada organ-organ pencernaan di dalam rongga perut. Efek kombinasi antara pelepasan hormon kebahagiaan dan peningkatan sirkulasi darah ini membuat tubuh terasa lebih segar dan rileks.
Menerapkan aktivitas ini dalam kehidupan harian dapat dilakukan secara mandiri maupun secara berkelompok melalui klub khusus (laughter yoga). Dalam sesi tersebut, peserta diajak untuk melakukan gerakan tertawa yang disengaja yang dikombinasikan dengan latihan pernapasan diafragma. Otak manusia tidak dapat membedakan antara tertawa buatan dan tertawa alami, sehingga efek biologis penurunan hormon stres yang dihasilkan tetap sama besarnya. Melatih terapi tertawa secara rutin adalah cara menyenangkan untuk menjaga kesehatan jiwa dan raga Anda.